Iklan video

Selasa, 12 November 2013

BACAAN DAN GERAKAN SHALAT

1) Takbir
Nabi saw. selalu memulai shalatnya dengan mengucapkan : Allahu akbar dan beliaupun pernah memerintahkan seperti itu kepada orang yang shalatnya salah.Beliau bersabda kepada orang itu :
إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغْ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ .
“sesungguhnya shalat seseorang tidak sempurna sebelum dia berwudlu’ dan melakukan wudlu’sesuai ketentuannya,kemudian ia mengucapkan allahu akbar.”
TATACARA TAKBIR DAN MENGANGKAT TANGAN
Terkadang nabi mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan ucapan takbir
Beliau mengangkat kedua tangannya dengan membuka jari-jarinya lurus ke atas (tidak merenggangkannya dan tidak pula menggenggamnya
Sabda beliau :
كَانَ يَرْفَعُهُمَا مَمْدُوْدَةَ اْلأَصَابِعِ ( لاَيُفَرِّجُ بَيْنَهُمَا وَلاَيَضُمُّهُمَا )
Beliau mengangkat kedua tangannya dengan membuka jari-jarinya lurus ke atas (tidak merenggangkannya dan tidak pula menggenggamnya ”
Dan mengangkatnya sejajar dengan bahu,
2) Bersedekap
كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضَعُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى.
Nabi saw. meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya (bersedekap).
كَانَ يَضَعُهُمَا عَلَى الصَّدْرِ.
Beliau meletakkan kedua tangannya (bersedekap di dada).
كَانَ يَضَعُ الْيُمْنَى عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ الْيُسْرَى وَ الرُّسْخِ وَ السَّاعِدِ.
Beliau meletakkan (telapak tangan) kanan diatas punggung telapak kirinya, pergelangan, dan
lengan bawah (tangan) kirinya.
3) Khusyu’
Sewaktu shalat, Rasulullah menundukkan kepala dan memandang ke tempat sujud.
كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى طَأْطَأَ رَأْسَهَ وَرَمَى بِبَصَرِهِ نَحْوَ اْلأَرْضِ.
“Saat shalat Nabi saw. biasa menundukkan kepalanya dan mengarahkan pandangannya ke bumi”.
Pada saat berdiri beliau membaca do’a iftitah, ta’awudz, Al-Fatihah dengan mensirrkan (tidak mengeraskan) basmalahnya, meskipun shalat itu adalah shalat jahr (yang dikerskan bacaannya) kemudian beliau membaca Amin
الله أكبر
4) DO’A-DO’A IFTITAH (DIBACA SIRR/TIDAK DIKERASKAN)
1.
اللّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ ، اللّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اَللّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَا بِالْمَاءِ وَ الثَّلْجِ وَ الْبَرَدِ.
“Ya Allah jauhkanlah diriku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau telah jauhkan timur dari barat, Ya Allah jauhkanlah diriku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana kain putih yang dibersihkan dari kotoran, ya Allah cucilah diriku dari kesalahan-kesalahanku dengan air,es, dan embun”
2.
إِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّموَاتِ وَ اْلأَرْضَ حَنِيْفًا ( مُسْلِمًا ) وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذَالِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ.
“ Aku hadapkan wajahku kepada Tuhan Pencipta seluruh langit dan bumi dengan penuh kepasrahan dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.Shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku semata-mata untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sesuatupun yang menyekutukan-Nya. Demikianlah aku diperintah dan aku termasuk orang yang pertama-tama menjadi muslim”
5) TA’AWWUDZ (DIBACA SIRR)
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَ نَفْخِهِ وَ نَفْثِهِ.
“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dari kegilaannya, dari kesombongannya, dan dari syairnya yang tercela.”
6) MEMBACA AL-FATIHAH
Nabi saw. membaca surah Al-Fatihah dengan berhenti setiap ayat, tidak menyambung satu ayat dengan ayat berikutnya. Jadi bunyinya :
(kemudian berhenti), بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
(kemudian berhenti), الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
(kemudian berhenti), الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ Begitulah seterusnya sampai selesai.Beliau tidak menyambung ayat satu dengan ayat berikutnya
ملِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ
dengan memendekkan bacaan maa menjadi:
ملِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ
Diwajibkan bagi imam untuk membaca aamiin dengan keras dan panjang,sementara makmum wajib mengikuti bacaan imam tersebut.
كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْتَهَى مِنْ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ قَالَ : آمِيْنَ يَجْهَرُ وَيَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ
Bila Nabi saw. selesai membaca Al-Fatihah (dalam shalat), beliau mengucapkan aamiin dengan suara keras dan panjang.
Nabi saw. menyuruh makmum mengikuti bacaan amin imam segera setelah imam mengucapkan aamin.Beliau bersabda:
إِذَا قَالَ الْإِمَامُ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ فَقُولُوا آمِينَ (فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَقُولُ آمِينَ وَإِنَّ الْإِمَامَ يَقُولُ آمِينَ)-(وَفِيْ لَفْظٍ آخَرَ : إِذَا أَمَّنَ اْلإِمَامُ فَأَمِّنُوْا )، فَمَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ (وَفِيْ لَفْظٍ آخَرَ : إِذَا قَالَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلاَةِ :آمِيْنَ، وَ الْمَلاَئِكَةُ فِي السَّمَاءِ : آمِيْنَ، فَوَافَقَ أَحَدُهُمَا اْلآخَرَ)،غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Bila imam selesai membaca ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa ladh dhaalliin, ucapkanlah aamiin (karena malaikat juga mengucapkan aamiin dan imam pun mengucapkan aamiin).” Dalam riwayat lain :”Apabila imam mengucapkan aamiin,hendaklah kalian mengucapkan aamiin.) Barang siapa ucapan aminnya bersamaan dengan ucapan malaikat,(dalam riwayat lain disebutkan :”Bila seseorang diantara kamu mengucapkan aamiin dalam shalat bersamaan dengan malaikat dilangit mengucapkannya) dosa-dosanya masa lalu diampuni.”
Surat Al-Fatihah ini dipandang agung, oleh karena itu nabi saw. pernah bersabda:
لاَصَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ فِيْهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ.
“Tidak sah shalat seseorang jika tidak membaca Al-Fatihah.”
Apabila imam mengeraskan bacaannya maka makmum tidak membaca (diam dan mendengarkan bacaan imam) adapun jika imam tidak mengeraskan bacaannya maka makmum wajib membaca sendiri-sendiri tanpa mengganggu orang lain.
Rasulullah melarang makmum membaca semua bacaan Al-Qur’an dalam shalat jahr, yang mana imam membaca Al-Qur’an dengan suara keras dan dalam suatu riwayat disebutkan bahwasanya peristiwa ini terjadi dalam shalat Shubuh.Mengenai kejadian ini beliau bersabda:
هَلْ قَرَأَ مَعِيَ أَحَدٌ مِنْكُمْ آنِفًا فَقَالَ رَجُلٌ نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِنِّي أَقُولُ مَالِي أُنَازَعُ الْقُرْآنَ قَالَ فَانْتَهَى النَّاسُ عَنْ الْقِرَاءَةِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا جَهَرَ فِيهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْقِرَاءَةِ مِنْ الصَّلَوَاتِ حِينَ سَمِعُوا ذَلِكَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( وَقَرَؤُوْا فِيْ أَنْفُسِهِمْ سِرًّا فِيْمَا لاَيَجْهَرُ فِيْهِ اْلإِيْمَامُ ).
“Adakah seseorang diantara kalian membaca Al-Qur’an bersamaaan dengan aku membaca?” Seseorang menjawab:”Ya, saya, wahai Rasulullah. “ Sabdanya: “Aku katakan kepadamu mengapa aku diganggu (sehingga bacaanku terganggu)?” (Abu Hurairah berkata): Kemudian para sahabat berhenti membaca Al-Qur’an bersama Rasulullah saw.bila Rasulullah saw. membacanya dengan suara keras dan bacaan itu mereka dengar (dan mereka sendiri tanpa suara bila imam tidak mengeraskan bacaannya).
7) Menghilangkan gangguan syetan
Apabila seseorang mendapatkan gangguan syetan dalam shalatnya maka disunnahkan baginya untuk membaca ta’awudz
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk
Kemudian meludah ke sebelah kirinya sebanyak tiga kali
8) Mendekati sutrah (pembatas)
Diperbolehkan bagi seseorang yang sedang shalat untuk berjalan bila ada keperluan, misalnya membukakan pintu bagi seseorang. Rasulullah saw.pernah membukakan pintu untuk Aisyah padahal beliau sedang shalat
Diperbolehkan juga bagi seseorang untuk berjalan mendekati sutrah (pembatas) agar tidak dilewati sesuatu didepannya
9) Menghalangi orang yang melewati sutrah
Rasulullah saw.bersabda :
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنْ النَّاسِ فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ
“Bila seseorang diantara kamu shalat menghadap sesuatu yang dapat menghalangi orang lain untuk lewat, kemudian bila ada orang yang hendak melanggarnya, hendaklah kamu tolak sejauh kemampuanmu sebanyak 2 kali. Jika dia bersikeras melakukannya, hendaklah kamu lawan orang itu karena orang seperti itu adalah setan
Lewat didepan orang yang sedang shalat merupakan DOSA BESAR. Rasulullah saw. bersabda :
لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّيْ مَاذَا عَلَيْهِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِيْنَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ.
“Sekiranya orang yang lewat didepan orang yang sedang shalat tahu betapa besar dosanya, ia lebih baik berdiri selama empat puluh (masa-pent.
10) Ruku’
Setelah membaca ayat al-Qur’an Rasulullah saw.berhenti sebentar lalu mengangkat tangan, bertakbir dan ruku’.
Ketika ruku’ Rasulullah saw. meletakkan tangannya pada kedua lututnya
كَانَ يُفَرِّجُ بَيْنَ أَصَابِعِهِ
Beliau (Rasulullah saw.) merenggangkan jari-jarinya
Beliau meluruskan punggungnya
Orang yang tidak menyempurnakan ruku’nya merupakan pencuri yang paling jahat, yaitu pencuri dalam shalat
إِنَّهُ لاَصَلاَةَ لِمَنْ لاَ يُقِيْمُ صُلْبَهُ فِي الرُّكُوْعِ وَ السُّجُوْدِ.
“Sesungguhnya tidak sah shalat orang yang tidak melakukan ruku’ dan sujud dengan meluruskan punggungnya
Dianjurkan melamakan ruku’
Dalam melaksanakan ruku’ ini ada beberapa macam dzikir dan do’a yang dibaca, terkadang membaca ini dan terkadang membaca itu :
1- 3 (kali) سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ
“Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung.” 3 kali
2. 3 (kali) سُبْجَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَ بِحَمْدِهِ
“Maha Suci Tuhanku lagi Mahaagung dan segala puji pagi-Nya.” 3 kali
3. سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَ الرُّوْحِ
Mahasuci Tuhanku lagi Maha kudus
4. سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ اللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ.
Maha suci Engkau, wahai Tuhan. Segala puji bagi-Mu , wahai Tuhan, ampunilah aku.”
Beliau sering membaca bacaan ini dalam ruku’ dan sujudnya sebagai pelaksanaan dari perintah Al-Qur’an
11) I’tidal.
Nabi bangkit dari ruku’ sambil mengucapkan :
سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ
Allah mendengar orang yang memujinya
Ketika I’tidal beliau berdiri lurus sampai setiap ruas tulang belakangnya kembali pada tempatnya
“(Wahai Tuhan kami, (dan) segala puji adalah milik-Mu).
Beliau menyuruh setiap orang yang shalat, baik makmum maupun bukan, untuk melakukan hal ini sebagaimana sabdanya :
“Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kamu melihat aku shalat.”
Sabdanya pula :
“Imam tidak lain dijadikan untuk diikuti … Bila dia mengucapkan ‘sami’allaahu liman hamidah,’ hendaklah kalian mengucapkan ‘(allahumma) rabbanaa wa lakal hamd. ` Allah mendengar kamu sekalian, karena Allah, Tuhan Yang Mahamulia dan Mahatinggi telah berfirman melalui lisan nabi-Nya saw:` Allah mendengar orang yang memuji-Nya.
Nabi saw. mengangkat kedua tangannya ketika berdiri I’tidal dengan cara seperti yang dilakukan pada waktu takbiratul ihram. kemudian sambil berdiri beliau mengucapkan :
“(Wahai tuhan kami ,(dan) segala puji adalah milik-Mu)
12) Sujud
Nabi saw. bertakbir ketika turun untuk sujud
Terkadang beliau mengangkat tangannya ketika hendak sujud
Bila hendak sujud, beliau mengucapkan takbir (dan beliau merenggangkan tangannya dari lambung), kemudian sujud.
a. Turun sujud mendahulukan dua tangan
Beliau meletakkan kedua tangannya ke tanah sebelum meletakkan kedua lututnya.
Beliau menyuruh berbuat demikian sebagaimana sabdanya:
“Apabila seseorang diantara kamu bersujud, janganlah turun seperti turunnya unta, tetapi hendaklah ia letakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya.”
Beliau menekankan hidung dan dahinya ke tanah.
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Apabila engkau sujud, tekankanlah wajahmu dan kedua tanganmu ke tanah sehingga setiap ruas tulangmu kembali ke tempatnya.
Beliau bersabda:
Tidak sah shalat seseorang bila hidung dan dahinya tidak menekan ke tanah.
Beliau juga menekankan kedua lututnya dan bagian depan kedua kaki ke bawah
serta menghadapkan (punggung kedua lututnya dan bagian depan kedua telapak kaki ke bawah
“Aku diperintah untuk bersujud.” (dalam riwayat lain disebutkan : “Kami diperintah untuk bersujud) dengan tujuh anggota badan, yaitu kening sekaligus hidung, dua tangan (dua telapak tangan) dua lutut, jari-jari kedua kaki, dan kami tidak boleh menyibak lengan baju dan rambut.”
Sabdanya pula :
“Bila seseorang sujud, hendaklah menyertakan tujuh anggota badannya, yaitu: wajahnya, kedua telapak tangannya, kedua lututnya, dan kedua kakinya.”
Beliau meletakkan tangannya sejajar dengan kedua bahunya.
(Terkadang beliau meletakkan tangannya) sejajar dengan kedua daun telinganya.
Rasulullah saw. meletakkan telapak tangannya (dan membukanya)
Beliau merapatkan kedua tumitnya
Beliau mengangkat kedua lengannya dari tanah dan menjauhkannya dari lambungnya sampai warna putih kedua ketiak beliau terlihat orang di belakangnya.
Adapun apabila menjadi makmum maka tidak perlu melebarkan lengan sehingga mengganggu orang lain yang berada di samping.
Disunahkan memperbanyak do’a sewaktu sujud dilarang membaca Al-Qur’an ketika sujud
Do’a-do’a sujud
Dalam sujud ada beberapa macam dzikir dan do’a yang dibaca oleh Nabi saw.. Terkadang beliau membaca ini dan terkadang membaca lainnya, yaitu :
1) (3 kali) سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى
“Mahasuci Tuhanku Yang Maha Tinggi. “ (3 kali )
2) (3 kali) سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ “Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi dan segala puji bagi-Nya.”(3 kali)
3)سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ اْلمَلاَئِكَةِ وَ الرُّوْحِ
“ Mahasuci dan Mahakudus, Tuhan seluruh malaikat dan ruh.
4)سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ
“ Mahasuci Engkau, wahai Tuhan, Tuhan kami, dan dengan memuji-Mu, wahai Tuhan, berilah aku ampunan.
Do’a ini banyak beliau baca dalam ruku’ dan sujud sesuai dengan perintah Al-Qur’an.
Duduk antara dua sujud
Rasulullah saw. menegakkan telapak kaki kanan
Ketika duduk ini Nabi saw. membaca do’a-do’a :
اَللّهُمَّ ( وَفِيْ لَفْظٍ : رَبِّ ) اغْفِرْلِيْ، وَارْحَمْنِيْ، ( وَاجْبُرْنِيْ) ( وَارْفَعْنِيْ)، وَاهْدِنِيْ، (وَعَافِنِيْ) وَارْزُقْنِيْ .
“Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, (lindungilah aku),(angkatlah aku), berilah aku petunjuk,(jadikanlah aku sehat), dan berilah aku rizki.
Duduk istirahat
Setelah bangun dari sujud beliau duduk tegak (yaitu duduk diatas telapak kirinya dengan tegak sampai setiap ruas tulang punggungnya mapan).
Bertumpu pada tangan saat bangkit ke rakaat berikutnya
Kemudian Nabi saw. bangkit ke rakaat kedua dengan tangan bertumpu ke tanah.
Nabi melakukan ‘ajm ketika shalat, yaitu berdiri ke raka’at berikutnya dengan bertumpu pada kedua tangannya.
Ketika telah berdiri pada raka’at kedua Nabi saw. mengawali bacaan dengan alhamdulillah tanpa diam lebih dahulu.
TASYAHUD AWAL
Nabi saw. kemudian duduk tasyahud setelah rakaat kedua. Bila shalat yang dilakukannya hanya dua raka’at, seperti shalat shubuh, beliau duduk iftirasy
Beliau saw. meletakkan telapak tangan kirinya diatas lutut kirinya dengan mengembang , tetapi beliau menggenggam semua jari tangan kanannya dan mengacungkan telunjuknya ke kiblat dan mengarahkan pandangan mata ke telunjuknya
Rasulullah mengarahkan pandangan mata ke telunjuk
Cara Rasulullah saw. mengisyaratkan jari
Ibu jari memegang jari tengah
Ibu jari dan jari tengah membentuk bulatan
Macam-macam bacaan tasyahud
1) Tasyahud Ibnu Mas’ud
Ia berujar : Rasulullah saw. mengajarkan tasyahhud kepadaku seraya beliau menggenggam telapak tanganku, sebagaimana beliau mengajarkan suatu surah Al-Qur’an kepadaku (berbunyi):
اَلتَّحِيَّاتُ ِللهِ ، وَالصَّلَوَاتُ وَ الطَّيِّبَاتُ ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ ، ( فَإِنَّهُ إِذَا قَالَ ذَالِكَ أَصَابَ كُلُّ عَبْدٍ صَالِحٍ فِي السَّمَاءِ وَ اْلأَرْضِ) . أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ.
“Semua ucapan penghormatan, pengagungan, dan pujian hanyalah milik Allah. Segala pemeliharaan dan pertolongan Allah untukmu, wahai para Nabi, begitu pula rahmat Allah dan segala karunia-Nya. Semoga perlindungan dan pemeliharaan diberikan kepada kami dan semua hamba Allah yang shalih (mencakup semua hamba shalih yang ada di langit dan bumi). Aku bersaksi tiada tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi sesungguhnya Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya.”
bacaan ‘assalaamu’alaika ayyuhan nabiyy’ hanya dibaca semasa nabi masih hidup . Adapun setelah beliau wafat maka para sahabat membaca dengan “Assalamu’alan nabiyy”
2) Tasyahud Ibnu ‘Abbas.
التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ ، (اَل)سَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، (اَل)سَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ ، وَ(أَشْهَدُ) أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ.
“Segala ucapan penghormatan, segala karunia, segala ucapan pengagungan dan pujian hanyalah milik Allah. Segala perlindungan dan pemeliharaan untukmu, wahai Nabi, begitu pula rahmat Allah dan segenap karunia-Nya. Semua perlindungan dan pemeliharaan semoga diberikan kepada kami dan semua hamba Allah yang shalih (mencakup semua hamba shalih yang ada di langit dan bumi). Aku bersaksi tiada tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi sesungguhnya Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya.”
Dalam riwayat lain ditambahkan :
“… hamba-Nya dan rasul-Nya.”
اَلتَّحِيَّاتُ ِللهِ ، (و)َ الصَّلَوَاتُ (وَ) الطَّيِّبَاتُ ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ – قَالَ ابْنُ عُمَرَ: زِدْتُ فِيْهَا:وَبَرَكَاتُهُ - اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ – قَالَ ابْنُ عُمَرَ: وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
“Segala ucapan penghormatan milik Allah,begitu pula segala karunia dan ucapan pengagungan. Semua pertolongan dan pemeliharaan untukmu , wahai Nabi, begitu pula karunia Allah.” Ujar Ibnu ‘Umar:”Aku tambahkan pada bacaan ini kata-kata: ‘Begitu pula semua karunia-Nya.” “Segala perlindungan dan pemeliharaan untuk kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi tiada tuhan kecuali Allah. Ibnu ‘Umar berkata:” Aku tambahkan pula kata-kata: Tuhan Yang Tunggal.’” “Tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya.”
اَلتَّحِيَّاتُ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ ِللهِ ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
“Segala ucapan penghormatan, segala karunia,segala ucapan pengagungan dan pujian hanyalah milik Allah. Semua perlindungan dan pemeliharaan untukmu , wahai Nabi, begitu pula rahmat dan semua karunia Allah. Semua perlindungan dan pemeliharaan Allah untuk kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi tiada tuhan kecuali Allah(Tuhan Mahatunggal).tiada sekutu bagi-Nya) dan Aku bersaksi sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya.”
(Tujuh kalimat ini adalah ucapan tahiyyat shalat).
5) Tasyahud ‘Umar bin Khattab, ketika berada di atas mimbar beliau mengajarkan tasyahud kepada orang banyak, ujarnya:
التَّحِيَّاتُ ِللهِ ، الزَّاكِيَاتُ ِللهِ ، الطَّيَِبَاتُ ( ِللهِ ) ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ ... الخ
“Segala ucapan penghormatan hanyalah milik Allah, segala pengkudusan hanyalah milik Allah, segala pengagungan (hanyalah milik Allah). Segala pemeliharaan dan perlindungan adalah untukmu… dst.”(seperti tasyahud Ibnu Mas’ud).
6) Tasyahud ‘Aisyah
Qasim bin Muhammad berkata:’Aisyah pernah mengajarkan kepada kami bacaan tasyahud. Seraya memberi isyarat dengan tangannya ia mengucapkan:
اَلتَّحِيَّاتُ، الطَّيِّبَاتُ، الصَّلَوَاتُ ، الزَّاكِيَاتُ ِللهِ، السَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ ... الخ
“Segala ucapan untuk menyatakan hormat, segala ucapan untuk menyatakan pengagungan, dan segala ucapan pujian serta ucapan untuk menyatakan pengkudusan hanyalah milik Allah. Segala perlindungan dan pemeliharaan untuk Nabi … dst seperti yasyahud Ibnu Mas’ud.”
Nabi saw. membaca shalawat untuk dirinya pada tasyahud awal dan lainnya
Dianjurkan untuk membaca shalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah mengucapkan salam kepadanya
1) الَلّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ ، وَعَلَى أَزْوَاجِهَ وَذُرِّيَّتِهِ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى الِ إِبْرَاهِيْمَ ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى الِ بَيْتِهِ ، وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى الِ إِبْرَاهِيْمَ ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .
“Ya Allah, berikanlah rahmat kepada Muhammad,
Inilah lafazh shalawat yang biasa dibaca Nabi saw.
2) الَلّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى الِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى ( إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى ) الِ إِبْرَاهِيْمَ،إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ،اَللّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى الِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى) الِ إِبْرَاهِيْمَ ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .
“Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada (Ibrahim dan kepada) keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahaagung. Ya Allah, berikanlah karunia kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan karunia kepada (Ibrahim dan kepada) keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahaagung.”
3) الَلّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى الِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، (وَ الِ إِبْرَاهِيْمَ)، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى الِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيْمَ
وَ) الِ إِبْرَاهِيْمَ ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .
“Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim (dan kepada keluarga Ibrahim). Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahaagung. Berikanlah karunia kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan karunia kepada (Ibrahim dan) keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahaagung.”
4) الَلّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ (النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ) ، وَعَلَىالِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى (الِ) إِبْرَاهِيْمَ، وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ (النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ)، وَعَلَى الِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى (الِ) إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ . إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .
“Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad,(Nabi yang ummi) dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada kepada (keluarga) Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahaagung. Berikanlah karunia kepada Muhammad (Nabi yang ummi) dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan karunia kepada (keluarga) Ibrahim di seluruh alam.Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahaagung.”
5) الَلّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ.كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى (الِ) إِبْرَاهِيْمَ، وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ (عَبْدِكَ وَ رَسُوْلِكَ)، (وَعَلَى الِ مُحَمَّدٍ )، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ (وَ عَلَى الِ إِبْرَاهِيْمَ)
“Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad,hamba-Mu dan rasul-Mu, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada kepada (keluarga) Ibrahim.dan berilah karunia kepada Muhammad, hamba-Mu dan rasul-Mu),( dan keluarga Muhammad) sebagaimana Engkau telah memberikan karunia kepada Ibrahim dan (keluarga) Ibrahim.”
6) الَلّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ (عَلَى) أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ،كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى (الِ) إِبْرَاهِيْمَ، وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، (وَعَلَى) أَزْوَاجِهِ وَ ذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى (الِ) إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ . إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ .
“Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad kepada para istrinya dan anak keturunannya sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada (keluarga) Ibrahim dan berilah karunia kepada Muhammad,(kepada) para istrinya dan anak keturunannya sebagaimana Engkau telah memberikan karunia kepada (keluarga) Ibrahim .Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahaagung.”
____________________________________________

“Hadits ini mempunyai banyak sanad. Inilah yang pokok dalam masalah ini.” Selanjutnya ia berkata:”Sejumlah imam salaf dan ahli-ahli al-Qur’an dahulu sangat senang membaca Al-Qur’an ayat per ayat, sekalipun ayat yang satu dengan ayat yang lain itu masih mempunyai satu pengertian.”
Nashiruddin Al-Albani berkata: “Sunnah nabi seperti ini ditinggalkan oleh sebagian besar ahli qira’atul Qur’an pada masa –masa ini,apalagi yang lain.
Penjelasan : Hadits ini tidaklah menunjukkan bahwa makmum tidak boleh membaca do’a sami`allaahu liman hamidah seperti yang dibaca imam sebagaimana halnya hadits ini juga tidak menunjukkan bahwa imam tidak boleh mengucapkan do’a rabbanaa walakal hamd seperti yang dibaca oleh makmum dalam gerakan bangkit dari ruku` . Akan tetapi hadits ini menerangkan bahwa bacaan rabbanaa walakal hamd dilakukan setelah imam mengucap sami’allaahu liman hamidah. Hal ini dikuatkan oleh keterangan bahwa Nabi saw membaca sami`allaahu liman hamidah ketika menjadi imam. Juga berdasarkan pernyataan umum dari sabda Nabi saw. :”Shalatlah kamu seperti kamu sekalian melihat aku shalat.” Dengan demikian, makmum boleh mengucapkan sami’allaahu liman hamidah dan lain-lain seperti yang diucapkan oleh imam.
Harap anda ketahui bentuk perbedaan kita dari unta adalah meletakkan kedua tangan terlebih dahulu dari pada lutut, karena unta meletakkan lututnya terlebih dahulu yang ada pada kedua tangannya. Demikianlah yang tersebut dalam Kamus Lisanul Arab dan kamus-kamus Arab yang lain. Demikian pula pendapat Thahawi dalam Kitab Musyklul Atsar Dan Syarah Ma’anil Atsar. Pendapat ini diikuti pula olah Qashim As Sarqisthi. Ia meriwayatkan sebuah Hadits dalam Kitab Gharibul Hadits juz 2 halaman 70 Hadits no.1&2, dengan sanad shahih, dari Abu Hurairah, ujarnya: “janganlah seseorang turun (sujud) seperti unda menderum.” Kata Imam Qashim:
“Hal ini berlaku ketika hendak sujud.” Maksudnya, tidak boleh merebahkan diri seperti yang dilakukan oleh unta (tangan dan kakinya turun hampir bersamaan), sehingga tidak tenang. Akan tetapi orang yang hendak sujud hendaklah melakukannya dengan tenang, yaitu menurunkan tangannya lebih dulu, kemudian lututnya. Hal ini diriwayatkan oleh Hadits yang marfu’ dan isinya jelas. Akan tetapi yang aneh adalah pendapat Ibnul Qayyim, ujarnya: “Pernyataan ini (menurunkan tangan lebih dulu daripada kaki) adalah suatu pernyataan yang tidak masuk akal dan tidak dimengerti ahli bahasa.”
Pendapatnya terbantah oleh sumber-sumber diatas dan sumber-sumber lain yang masih banyak lagi.
Penjelasan: Yakni menyibak lengan baju dan rambut agar tidak terjurai. Maksudnya menyibak lengan baju dan rambut dengan tangan pada waktu ruku’ dan sujud. Demikian dikatakan dalam kitab An-Nihayah.
Larangan ini tidak hanya berlaku saat mengerjakan shalat,bahkan sekiranya seseorang menyibak lengan baju dan rambut sebelum shalat, lalu melakukan shalat, menurut jumhur ulama termasuk dalam larangan itu dan dikuatkan oleh larangan pada Hadits nabi saw. yang menyatakan bahwa orang yang shalat tidak boleh menyibak rambutnya ketika sujud.

Ceramah : MERINDUKAN SHALAT

Bismilahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Wr, Wb



Pertama-tama kita bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kita kenikmatan sehingga kita masih diberi kesempatan untuk mengerjakan berbagai aktifitas

Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad SAW yang telah menunjukan jalan kepada ummatnya dari zaman jahiliyah menuju zaman modern yang kita rasakan sekarang ini.



Allah SWT berfirman, Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah aku dan dirikan shalat untuk mengingatku. (QS Thaha 20; 14)

Menjelang Shubuh Khalifah Umar Bin Khattab berkeliling kota membangunkan kaum muslimin untuk shalat Shubuh, ketika waktu shalat tiba, dia sendiri yang mengatur shaf-shaf shalat dan mengimami para jamaah. Pada Shubuh itu tragedi besar dalam sejarah terjadi. Saat Khalifah mengucapkan Takbiratul Ihram, tiba-tiba seorang lelaki bernama Abu Lu’luah menikamkan sebilah pisau ke bahu, pinggang, dan ke bawah pusar beliau. Darah pun menyembur, namun Khalifah yang berjuluk “Singa Padang Pasir” ini bergeming pada kekhusyuannya dalam memimpin shalat. Padahal waktu shalat masih bisa ditangguhkan beberapa saat sebelum terbitnya matahari, sekuat apapun Umar akhirnya ia ambruk juga. Walau demikian, ia masih sempat memerintahkan Abdurrahman Bin ‘Auf untuk menggantikannya sebagai imam.

Beberapa setelah ditikam, kesadaran dan ketidaksadaran silih berganti mendatangi Khalifah Umar, para sahabat yang mengelilinginya demikian cemas akan keselamatan Khalifah. Salah seorang diantara mereka berkata kalau beliau masih hidup, tidak ada yang bisa menyadarkannya selain kata-kata shalat! “Lalu yang hadir serentak berkata, “Shalat wahai Amirul Mukminin Shalat telah hampir dilaksanakan”. Ia langsung tersadar, Shalat ? Kalau demikian disanalah Allah. Tiada keberuntungan dalam islam bagi yang meninggalkan shalat. Maka ia langsung melaksanakan shalat dengan darah berkucuran, Subhanallah ! Baginya tiada yang terindah dalam hidup elain menghadap Allah SWT, dunia begitu kecil dihadapannya, kenikmatan komunikasi dengan dzat yang Maha Mencinta mampu menghilangkan sakitnya tususkan pisau yang tajam. Tak heran bila demi sekali shalat Umar pun rela menukarnya dengan harta yang ia miliki.



Anugerah Allah dalam shalat

Shalat adalah keistimewaan yang dianugerhakn Allah kepada Rasulullah SAW dan umatnya. Demikian istimewanya, hingga proses turunnya perintah shalat diawali dengan peristiwa Isra’ Mi’raj. Allah SWT langsung mengundang Rasulullah SAW ke langit. Nilai strategis dan keistimewaan shalat sudah tidak terbantahkan lagi. Shalat adalah amalan pertama yang diwajibkan atas Rasulullah SAW, shalat adalah tiang yang menyangga bangunan islam. Shalat adalah pembeda antara seorang muslim dan seorang kafir. Shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab. Shalat adalah kunci kesuksesan dan kebahagiann hidup. Shalat adalah penggugur dosa-dosa. Shalat adalah kunci kesuksesan seorang hamba. Shalat adalah sarana pengundang datangnya pertolongan Allah. Shalat pun menjadi istimewa bagi seorang hamba karena ia bisa berhadapan langsung dengan Rabbnya.





Penelitian ilmiah pun menunjukan bahwa shalat memiliki segudang manfaat dari sudut kesehatan. Termasuk kemampuannya untuk mengurangi stress dan kecemasan, juga menyangkal datangnya penyakit-penyakiy fisik, selain tentunya menangkal penyakit rohani. Saat seorang hamba menunaikan shalat, dan shalatnya dinunaikan dengan khusyuk dan tumaninah, ia pun mendapatkan pengalaman rohani tertinggi dan bangkitnya kesadaran yang lebih tinggi. Tidak berlebihan jika dikatakan shalat sebgai mi’rajnya orang beriman. Melihat kenyataan ini seharusnya kita ini memaknai shalat buakn sebagai beban, tapi sebagai kebutuhan. Layaknya kita membutuhkan air, udara, makanan, seperti itulah shalat dibutuhkan.

Shalat tepat waktu adalah keutamaan yang dicontohkan Rasulullah SAW. tanda bahwa seorang telah menjadikan shalat sebagai kebutuhan adalah keistikamahannya dalam memburu shalat secara on time. Keutamaannya akan berlipat apabila dilaksanakan di mesjid dan berjamaah. Keutamaan ini akan berlipat lagi tatkala kita mempersiapkan diri sebelum melaksanakannya dengan menunggu sebelum adzan berkumandang. Mengapa menunggu shalat menjadi sebuah keutamaan ? Ada empat alasan. Pertama, menunggu shalat adalah bukti kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya. Sebagai analogi, seseorang yang sedang dimabuk cinta akan senantiasa merindukan pertemuan dengan yang dicintainya. Tatkala ada janji bertemu, ia akan berusaha untuk tidak terlambat. Begitu pula saat kita merindukan Allah, kita akan selalu menunggu berjumpa denganNya dan akan selalu menunggu perjumpaan itu.

Kedua, menunggu waktu shalat akan membuka kesempatan bagi kita untuk melakukan banyak kegiatan lainnya, seperti membaca Al-Qur;an, ‘itikaf, berdzikir, dan lainnya. Ketiga, saat menunggu shalat kemungkinan bermaksiat menjadi sangat kecil. Keempat, saat menunggu shalat kita akan berusaha menjaga kebersihan diri dan hati. Karena itu Rasulullah SAW menjanjikan bahwa seseorang dikategorikan sedang shalat, tatkala ia meniatkan diri menunggu datangnya waktu shalat. Bahkan saat itu para malaikat terus melantunkan doa agar kita dirahmati Allah SWT. Rasulullah bersabda “Sesungguhnya salah seorang diantara kalian (terhitung) di dalam shalat selama tertahan oleh shalat sedang para malaikat mendoakan mereka ; Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah rahmati dia, selama dia tidak berdiri dari tempat shalatnya atau berhadas.

Alangkah indahnya bila kita mmapu mengubah paradigma berpikir bahwa kerja kita, sekolah kita, tidur kita, rekreasi kita, pendeknya semua aktifitas hidup kita adalah aktifitas “sampingan” dari shalat. Bila paradigma berpikir ini digunakan, maka tak akan sekali pun kita melalaikan kumandangan adzan, karena itulah kerja utama kita. Yang tak kalah penting, semua aktifitas di luar shalat, Insya Allah akan makin berkualitas karena dilandasi nilai dzikir, nilai amar ma’ruf nahyi munkar, dan keinginan menjaga kebersihan diri. Boleh jadi semua aktifitas kita akan berniali shalat, karena kita meniatkannya sebagai aktifitas menanti perjumpaan dengan Allah SWT.



Wassalamu’alaikum Wr, Wb
Bismilahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Wr, Wb



Pertama-tama kita bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kita kenikmatan sehingga kita masih diberi kesempatan untuk mengerjakan berbagai aktifitas

Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad SAW yang telah menunjukan jalan kepada ummatnya dari zaman jahiliyah menuju zaman modern yang kita rasakan sekarang ini.



Allah SWT berfirman, Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah aku dan dirikan shalat untuk mengingatku. (QS Thaha 20; 14)

Menjelang Shubuh Khalifah Umar Bin Khattab berkeliling kota membangunkan kaum muslimin untuk shalat Shubuh, ketika waktu shalat tiba, dia sendiri yang mengatur shaf-shaf shalat dan mengimami para jamaah. Pada Shubuh itu tragedi besar dalam sejarah terjadi. Saat Khalifah mengucapkan Takbiratul Ihram, tiba-tiba seorang lelaki bernama Abu Lu’luah menikamkan sebilah pisau ke bahu, pinggang, dan ke bawah pusar beliau. Darah pun menyembur, namun Khalifah yang berjuluk “Singa Padang Pasir” ini bergeming pada kekhusyuannya dalam memimpin shalat. Padahal waktu shalat masih bisa ditangguhkan beberapa saat sebelum terbitnya matahari, sekuat apapun Umar akhirnya ia ambruk juga. Walau demikian, ia masih sempat memerintahkan Abdurrahman Bin ‘Auf untuk menggantikannya sebagai imam.

Beberapa setelah ditikam, kesadaran dan ketidaksadaran silih berganti mendatangi Khalifah Umar, para sahabat yang mengelilinginya demikian cemas akan keselamatan Khalifah. Salah seorang diantara mereka berkata kalau beliau masih hidup, tidak ada yang bisa menyadarkannya selain kata-kata shalat! “Lalu yang hadir serentak berkata, “Shalat wahai Amirul Mukminin Shalat telah hampir dilaksanakan”. Ia langsung tersadar, Shalat ? Kalau demikian disanalah Allah. Tiada keberuntungan dalam islam bagi yang meninggalkan shalat. Maka ia langsung melaksanakan shalat dengan darah berkucuran, Subhanallah ! Baginya tiada yang terindah dalam hidup elain menghadap Allah SWT, dunia begitu kecil dihadapannya, kenikmatan komunikasi dengan dzat yang Maha Mencinta mampu menghilangkan sakitnya tususkan pisau yang tajam. Tak heran bila demi sekali shalat Umar pun rela menukarnya dengan harta yang ia miliki.



Anugerah Allah dalam shalat

Shalat adalah keistimewaan yang dianugerhakn Allah kepada Rasulullah SAW dan umatnya. Demikian istimewanya, hingga proses turunnya perintah shalat diawali dengan peristiwa Isra’ Mi’raj. Allah SWT langsung mengundang Rasulullah SAW ke langit. Nilai strategis dan keistimewaan shalat sudah tidak terbantahkan lagi. Shalat adalah amalan pertama yang diwajibkan atas Rasulullah SAW, shalat adalah tiang yang menyangga bangunan islam. Shalat adalah pembeda antara seorang muslim dan seorang kafir. Shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab. Shalat adalah kunci kesuksesan dan kebahagiann hidup. Shalat adalah penggugur dosa-dosa. Shalat adalah kunci kesuksesan seorang hamba. Shalat adalah sarana pengundang datangnya pertolongan Allah. Shalat pun menjadi istimewa bagi seorang hamba karena ia bisa berhadapan langsung dengan Rabbnya.





Penelitian ilmiah pun menunjukan bahwa shalat memiliki segudang manfaat dari sudut kesehatan. Termasuk kemampuannya untuk mengurangi stress dan kecemasan, juga menyangkal datangnya penyakit-penyakiy fisik, selain tentunya menangkal penyakit rohani. Saat seorang hamba menunaikan shalat, dan shalatnya dinunaikan dengan khusyuk dan tumaninah, ia pun mendapatkan pengalaman rohani tertinggi dan bangkitnya kesadaran yang lebih tinggi. Tidak berlebihan jika dikatakan shalat sebgai mi’rajnya orang beriman. Melihat kenyataan ini seharusnya kita ini memaknai shalat buakn sebagai beban, tapi sebagai kebutuhan. Layaknya kita membutuhkan air, udara, makanan, seperti itulah shalat dibutuhkan.

Shalat tepat waktu adalah keutamaan yang dicontohkan Rasulullah SAW. tanda bahwa seorang telah menjadikan shalat sebagai kebutuhan adalah keistikamahannya dalam memburu shalat secara on time. Keutamaannya akan berlipat apabila dilaksanakan di mesjid dan berjamaah. Keutamaan ini akan berlipat lagi tatkala kita mempersiapkan diri sebelum melaksanakannya dengan menunggu sebelum adzan berkumandang. Mengapa menunggu shalat menjadi sebuah keutamaan ? Ada empat alasan. Pertama, menunggu shalat adalah bukti kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya. Sebagai analogi, seseorang yang sedang dimabuk cinta akan senantiasa merindukan pertemuan dengan yang dicintainya. Tatkala ada janji bertemu, ia akan berusaha untuk tidak terlambat. Begitu pula saat kita merindukan Allah, kita akan selalu menunggu berjumpa denganNya dan akan selalu menunggu perjumpaan itu.

Kedua, menunggu waktu shalat akan membuka kesempatan bagi kita untuk melakukan banyak kegiatan lainnya, seperti membaca Al-Qur;an, ‘itikaf, berdzikir, dan lainnya. Ketiga, saat menunggu shalat kemungkinan bermaksiat menjadi sangat kecil. Keempat, saat menunggu shalat kita akan berusaha menjaga kebersihan diri dan hati. Karena itu Rasulullah SAW menjanjikan bahwa seseorang dikategorikan sedang shalat, tatkala ia meniatkan diri menunggu datangnya waktu shalat. Bahkan saat itu para malaikat terus melantunkan doa agar kita dirahmati Allah SWT. Rasulullah bersabda “Sesungguhnya salah seorang diantara kalian (terhitung) di dalam shalat selama tertahan oleh shalat sedang para malaikat mendoakan mereka ; Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah rahmati dia, selama dia tidak berdiri dari tempat shalatnya atau berhadas.

Alangkah indahnya bila kita mmapu mengubah paradigma berpikir bahwa kerja kita, sekolah kita, tidur kita, rekreasi kita, pendeknya semua aktifitas hidup kita adalah aktifitas “sampingan” dari shalat. Bila paradigma berpikir ini digunakan, maka tak akan sekali pun kita melalaikan kumandangan adzan, karena itulah kerja utama kita. Yang tak kalah penting, semua aktifitas di luar shalat, Insya Allah akan makin berkualitas karena dilandasi nilai dzikir, nilai amar ma’ruf nahyi munkar, dan keinginan menjaga kebersihan diri. Boleh jadi semua aktifitas kita akan berniali shalat, karena kita meniatkannya sebagai aktifitas menanti perjumpaan dengan Allah SWT.



Wassalamu’alaikum Wr, Wb

HIKMAH KEMATIAN



Kehidupan berlangsung tanpa disadari dari detik ke detik. Apakah anda tidak menyadari bahwa hari-hari yang anda lewati justru semakin mendekatkan anda kepada kematian sebagaimana juga yang berlaku bagi orang lain?

Seperti yang tercantum dalam ayat “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. 29:57) tiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini ditakdirkan untuk mati. Tanpa kecuali, mereka semua akan mati, tiap orang. Saat ini, kita tidak pernah menemukan jejak orang-orang yang telah meninggal dunia. Mereka yang saat ini masih hidup dan mereka yang akan hidup juga akan menghadapi kematian pada hari yang telah ditentukan. Walaupun demikian, masyarakat pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan saja.

Coba renungkan seorang bayi yang baru saja membuka matanya di dunia ini dengan seseorang yang sedang mengalami sakaratul maut. Keduanya sama sekali tidak berkuasa terhadap kelahiran dan kematian mereka. Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan nafas bagi kehidupan atau untuk mengambilnya.

Semua makhluk hidup akan hidup sampai suatu hari yang telah ditentukan dan kemudian mati; Allah menjelaskan dalam Quran tentang prilaku manusia pada umumnya terhadap kematian dalam ayat berikut ini:
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 62:8)
Kebanyakan orang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Dalam kehidupan modern ini, seseorang biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang [dengan kematian]; mereka berpikir tentang: di mana mereka akan kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, baju apa yang akan mereka gunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti, hal-hal ini merupakan persoalan-persoalan penting yang sering kita pikirkan. Kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya ini. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya.
Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya!

Ketika kematian dialami oleh seorang manusia, semua “kenyataan” dalam hidup tiba-tiba lenyap. Tidak ada lagi kenangan akan “hari-hari indah” di dunia ini. Renungkanlah segala sesuatu yang anda dapat lakukan saat ini: anda dapat mengedipkan mata anda, menggerakkan badan anda, berbicara, tertawa; semua ini merupakan fungsi tubuh anda. Sekarang renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh anda setelah anda mati nanti.

Dimulai saat anda menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, anda tidak ada apa-apanya lagi selain “seonggok daging”. Tubuh anda yang diam dan terbujur kaku, akan dibawa ke kamar mayat. Di sana, ia akan dimandikan untuk yang terakhir kalinya. Dengan dibungkus kain kafan, jenazah anda akan di bawa ke kuburan dalam sebuah peti mati. Sesudah jenazah anda dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi anda. Ini adalah kesudahan cerita anda. Mulai saat ini, anda hanyalah seseorang yang namanya terukir pada batu nisan di kuburan.

Selama bulan-bulan atau tahun-tahun pertama, kuburan anda sering dikunjungi. Seiring dengan berlalunya waktu, hanya sedikit orang yang datang. Beberapa tahun kemudian, tidak seorang pun yang datang mengunjungi.

Sementara itu, keluarga dekat anda akan mengalami kehidupan yang berbeda yang disebabkan oleh kematian anda. Di rumah, ruang dan tempat tidur anda akan kosong. Setelah pemakaman, sebagian barang-barang milik anda akan disimpan di rumah: baju, sepatu, dan lain-lain yang dulu menjadi milik anda akan diberikan kepada mereka yang memerlukannya. Berkas-berkas anda di kantor akan dibuang atau diarsipkan. Selama tahun-tahun pertama, beberapa orang masih berkabung akan kepergian anda. Namun, waktu akan mempengaruhi ingatan-ingatan mereka terhadap masa lalu. Empat atau lima dasawarsa kemudian, hanya sedikit orang saja yang masih mengenang anda.
Tak lama lagi, generasi baru muncul dan tidak seorang pun dari generasi anda yang masih hidup di muka bumi ini. Apakah anda diingat orang atau tidak, hal tersebut tidak ada gunanya bagi anda.

Sementara semua hal ini terjadi di dunia, jenazah yang ditimbun tanah akan mengalami proses pembusukan yang cepat. Segera setelah anda dimakamkan, maka bakteri-bakteri dan serangga-serangga berkembang biak pada mayat tersebut; hal tersebut terjadi dikarenakan ketiadaan oksigen. Gas yang dilepaskan oleh jasad renik ini mengakibatkan tubuh jenazah menggembung, mulai dari daerah perut, yang mengubah bentuk dan rupanya. Buih-buih darah akan meletup dari mulut dan hidung dikarenakan tekanan gas yang terjadi di sekitar diafragma. Selagi proses ini berlangsung, rambut, kuku, tapak kaki, dan tangan akan terlepas. Seiring dengan terjadinya perubahan di luar tubuh, organ tubuh bagian dalam seperti paru-paru, jantung dan hati juga membusuk. Sementara itu, pemandangan yang paling mengerikan terjadi di sekitar perut, ketika kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas dan tiba-tiba pecah, menyebarkan bau menjijikkan yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan terlepas dari tempatnya. Kulit dan jaringan lembut lainnya akan tercerai berai. Otak juga akan membusuk dan tampak seperti tanah liat. Semua proses ini berlangsung sehingga seluruh tubuh menjadi kerangka.

Tidak ada kesempatan untuk kembali kepada kehidupan yang sebelumnya. Berkumpul bersama keluarga di meja makan, bersosialisasi atau memiliki pekerjaan yang terhormat; semuanya tidak akan mungkin terjadi.

Singkatnya, “onggokkan daging dan tulang” yang tadinya dapat dikenali; mengalami akhir yang menjijikkan. Di lain pihak, anda – atau lebih tepatnya, jiwa anda – akan meninggalkan tubuh ini segera setelah nafas anda berakhir. Sedangkan sisa dari anda – tubuh anda – akan menjadi bagian dari tanah.

Ya, tetapi apa alasan semua hal ini terjadi?

Seandainya Allah ingin, tubuh ini dapat saja tidak membusuk seperti kejadian di atas. Tetapi hal ini justru menyimpan suatu pesan tersembunyi yang sangat penting

Akhir kehidupan yang sangat dahsyat yang menunggu manusia; seharusnya menyadarkan dirinya bahwa ia bukanlah hanya tubuh semata, melainkan jiwa yang “dibungkus” dalam tubuh. Dengan lain perkataan, manusia harus menyadari bahwa ia memiliki suatu eksistensi di luar tubuhnya. Selain itu, manusia harus paham akan kematian tubuhnya - yang ia coba untuk miliki seakan-akan ia akan hidup selamanya di dunia yang sementara ini -. Tubuh yang dianggapnya sangat penting ini, akan membusuk serta menjadi makanan cacing suatu hari nanti dan berakhir menjadi kerangka. Mungkin saja hal tersebut segera terjadi.

Walaupun setelah melihat kenyataan-kenyataan ini, ternyata mental manusia cenderung untuk tidak peduli terhadap hal-hal yang tidak disukai atau diingininya. Bahkan ia cenderung untuk menafikan eksistensi sesuatu yang ia hindari pertemuannya. Kecenderungan seperti ini tampak terlihat jelas sekali ketika membicarakan kematian. Hanya pemakaman atau kematian tiba-tiba keluarga dekat sajalah yang dapat mengingatkannya [akan kematian]. Kebanyakan orang melihat kematian itu jauh dari diri mereka. Asumsi yang menyatakan bahwa mereka yang mati pada saat sedang tidur atau karena kecelakaan merupakan orang lain; dan apa yang mereka [yang mati] alami tidak akan menimpa diri mereka! Semua orang berpikiran, belum saatnya mati dan mereka selalu berpikir selalu masih ada hari esok untuk hidup.

Bahkan mungkin saja, orang yang meninggal dalam perjalanannya ke sekolah atau terburu-buru untuk menghadiri rapat di kantornya juga berpikiran serupa. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa koran esok hari akan memberitakan kematian mereka. Sangat mungkin, selagi anda membaca artikel ini, anda berharap untuk tidak meninggal setelah anda menyelesaikan membacanya atau bahkan menghibur kemungkinan tersebut terjadi. Mungkin anda merasa bahwa saat ini belum waktunya mati karena masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan. Namun demikian, hal ini hanyalah alasan untuk menghindari kematian dan usaha-usaha seperti ini hanyalah hal yang sia-sia untuk menghindarinya:
Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (QS. 33:16)
 Manusia yang diciptakan seorang diri haruslah waspada bahwa ia juga akan mati seorang diri. Namun selama hidupnya, ia hampir selalu hidup untuk memenuhi segala keinginannya. Tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memenuhi hawa nafsunya. Namun, tidak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan. Jenazah dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan yang murah. Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama. Modal yang dapat di bawa seseorang ketika mati hanyalah amal-amalnya saja.

widgeo.net