Iklan video

Minggu, 23 September 2012

“Kamu boleh tidak pintar di sekolah, tapi kamu harus jujur!”

Nasihat tegas dari orangtua sejak saya belia yang selalu saya tanamkan di benak.

Harus jujur! Orangtua tidak menuntut saya jadi bintang kelas tapi nilai sayapun tidak boleh paling jelek di kelas. Namun orangtua saya jauh lebih bangga jika anaknya jujur. Saya ingat, dulu ketika kelas 5 SD, saya melakukan kenakalan, menggunakan ua
ng kelompok di sekolah untuk jajan. Saya yang dipercaya dan seharusnya menyimpan dengan baik uang itu, melanggar amanah. Ketika uang yang seingat saya jumlahnya pun tidak terlalu besar, mungkin dihitung dengan nilai uang sekarang sekitar Rp 50.000 harus saya kembalikan karena akan dipakai kelompok ketrampilan, saya lalu minta uang pada ibu saya dan mengatakan jika uang itu habis untuk jajan saya 2 minggu.

Ibu sayapun marah besar. Bahkan saya sempat merasakan cubitan di beberapa bagian tubuh. Kata ibu saya, ia tidak marah dan keberatan dengan jumlah uang yang hanya Rp 50.000 tapi karena saya sudah berbuat tidak jujur dengan melanggar amanah, menggunakan uang yang bukan milik saya. Mungkin ibu saya tidak pandai dalam mengomunikasikan maksudnya marah kepada saya, tapi beranjak dewasa baru saya sadari betapa orangtua saya, terutama ibu saya sangat tegas mendidik anak-anaknya untuk jujur, terutama soal uang. Berapapun uang kembalian harus saya kembalikan ketika orangtua meminta saya berbelanja sesuatu.

Kejujuran. Akhlak utama yang harus ditegakkan. Jujur ketika berbuat salah yang semua orang tahu pasti betapa sulitnya.

Namun orangtua zaman sekarang, lebih suka anaknya pintar dan cerdas, menguasai bahasa Inggris, daripada menjadi anak jujur. Orangtua lebih bangga anaknya bersekolah di sekolah bergengsi meski itu menuai konsekuensi menyogok. Orangtua lebih bangga anaknya mendapat nilai baik/tinggi di sekolah meski itu didapatnya dengan berbuat curang (mencontek), atau melakukan cara-cara yang menghalalkan segala cara.

Pendidikan karakter untuk anak bangsa yang kian lama kian tergerus oleh tuntutan zaman, tuntutan orangtua demi gengsi. Bahkan pendidikan karakter mungkin sudah tidak penting lagi karena nyatanya orangtua lebih sibuk mencari tempat kursus vokal, tempat kursus bahasa asing terbaik dengan biaya mahal daripada mendaftarkan anaknya ke Taman Pendidikan Al-Quran.

5 Nama Lain Indonesia di Masa Lalu

Sebelum bangsa Indonesia ini mengunakan nama Indonesia ternyata pada masa lalu bangsa kita telah memiliki nama lain yang telah dikenal banyak orang.

Nah berikut ini ada 5 nama lain bangsa indonesia di masa lalu, ingin tahu apa aja itu simak berikut ini. 

1. Hindia 
Nama Hindia ini adalah ciptaan dari Herodotus, seorang ahli ilmu sejarah berkebangsaan Yunani (484-425 Sebelum Masehi) yang dikenal dengan Bapak Ilmu Sejarah. Adapun nama Hindia ini baru dipergunakan untuk kepulauan ini, oleh Ptolomeus (100-178 SM), seorang ahli ilmu bumi yang terkenal.. Dan nama Hindia ini menjadi terkenal sesudah bangsa Portugis di bawah pimpinan Vascvo da Gama mendapati kepulauan ini dengan menyusur sungai Indus, dalam tahun 1498 Masehi.

2. Nederlandsch Oost-Indie
Nama ini diberikan oleh orang-orang Belanda sesudah mereka berkuasa disini. Kemudian nama ini ditukar dengan “Nederlandsch Indie”. Seperti diketahui, bangsa Belanda untuk pertama kalinya datang ke Indonesia dalam tahun 1596 di bawah pimpinan Cornelis de Houtman.

3. Insulinde
Nama ini diberikan oleh Eduard Douwes Dekker (multatuli) di dalam bukunya Max Havelaar dalam tahun 1860, kemudian nama ini dipopulerkan oleh Professor P.J. Veth. Multatuli membuat nama baru ini, oleh karena ia jijik mendengar nama Nederlandsch Indie yang diberikan oleh Belanda itu. Adapun asal usul perkataan tersebut ialah berasal dari perkataan “Insulair”, “Insula” dan “Indus”. Insula dalam bahasa latin yang berarti pulau. Indus berarti Hindia, sedangkan Insilinde artinya pulau Hindia.

4. Nusantara
Nama ini ditemui dalam perpustakaan India Kuno, yang menyebut negeri ini Nusantara. Adapun Nusantara atau Dwipantara artinya pulau-pulau yang berada diantara benua-benua. Dalam kitab Negarakertagama disebutkan, bahwa Nusantara ialah pulau-pulau di luar tanah Jawa. Sedangkan dalam sejarah Melayu dipakai nama: Nusa Tamara. Nama inipun sesungguhnya berasal dari perkataan yang diucapkan Nusantara.

5. The Malay Archipelago
Nama ini diciptakan oleh Alfred Russel Wallace dalam tahun 1869, sesudah ia mengadakan perlawatan ke tanah air kita, dari tahun 1854 sampai dengan 1682. Adapun “Malay” artinya Melayu, “Archipel” yang berasal dari bahasa Yunani “Archipelagus” (dari asal Archi=memerintah, plagus= laut). Dengan demikian berarti menguasai laut atau berarti kumpulan pulau-pulau Melayu.






widgeo.net